?> Roda dan Sepatu Olga - menarajuare.my.id
Menara Juare:

 

Roda dan Sepatu Olga

Rabu, 1 Juli 2026 - 08:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bab 1: Sepatu Merah dan Roda Misterius

Hari Senin adalah hari paling berbahaya bagi siswa kelas XI IPS 2. Bukan karena ada ujian. Bukan juga karena kantin kehabisan mi goreng. Tapi karena hari Senin selalu identik dengan upacara.

Dan bagi Olga, upacara adalah ujian hidup.

“Kenapa sih orang harus berdiri diam selama setengah jam?” gerutu Olga sambil menatap kedua sepatunya.

Sepatu itu berwarna merah.

Merah menyala.

Merah seperti lampu rem truk.

Padahal aturan sekolah jelas-jelas mewajibkan sepatu hitam.

Olga sebenarnya punya sepatu hitam. Tapi dua hari lalu sepatunya dipakai adiknya buat lomba cosplay bajak laut. Entah bagaimana, sepatu itu sekarang berada di rumah neneknya di Garut.

“Kalau ketahuan Pak Drajat, habislah gue,” gumam Olga.

Pak Drajat adalah guru kesiswaan yang matanya lebih tajam daripada kamera CCTV. Jarak lima puluh meter saja beliau masih bisa membedakan mana sepatu hitam asli dan mana yang dihitamkan pakai spidol.

Aku, Roda, cuma bisa menggeleng.

Namaku memang Roda.

Bukan karena ayahku montir. Bukan juga karena aku lahir di atas sepeda motor.

Konon, waktu bayi aku sangat gemuk dan kalau tidur suka berguling ke sana ke mari seperti ban cadangan.

Sejak itu namaku resmi menjadi Roda.

“Tenang aja,” kataku. “Paling Pak Drajat nggak lihat.”

Olga melotot.

“Lu nggak kenal Pak Drajat.”

Belum sempat aku menjawab, terdengar suara dari pengeras suara.

“Seluruh siswa diharapkan segera menuju lapangan.”

Olga menelan ludah.

“Roda…”

“Hm?”

“Kalau gue dihukum, tolong bilang ke nyokap gue bahwa gue mati sebagai pejuang.”

“Lu mau upacara atau perang?”

Kami berjalan menuju lapangan.

Baru lima langkah…

“OLGA!”

Suara itu menggelegar.

Olga langsung berhenti.

Aku ikut berhenti.

Bahkan seekor burung gereja yang kebetulan lewat juga sepertinya ikut berhenti.

Pelan-pelan kami menoleh.

Di ujung koridor berdiri Pak Drajat.

Tangannya bersedekap.

Sorot matanya mengarah lurus ke…

sepatu merah Olga.

Selesai sudah.

Olga mengangkat kedua tangan.

“Saya menyerah, Pak.”

Pak Drajat mengernyit.

“Menyerah apa?”

“Saya mengaku salah.”

Pak Drajat malah bingung.

“Saya cuma mau bilang, tali sepatu kamu lepas.”

Kami semua melihat ke bawah.

Benar.

Tali sepatu Olga lepas.

Suasana hening.

Aku menggigit bibir agar tidak tertawa.

Olga menarik napas panjang.

Lalu…

BRAK!

Dia malah duduk di lantai.

Pak Drajat panik.

“Olga! Kenapa?”

“Saya bersyukur masih hidup, Pak…”

Upacara berlangsung aman.

Aman bagi semua orang.

Kecuali Olga.

Sejak tadi dia terus menutupi sepatunya dengan kedua kaki, sehingga berdirinya mirip flamingo yang salah pergaulan.

Selesai upacara, kami menuju kelas.

Saat melewati gudang olahraga, tiba-tiba terdengar suara aneh.

Kreeeek…

Kreek…

Kreek…

Olga berhenti.

“Gue denger sesuatu.”

“Paling tikus.”

“Tikus mana bunyinya kayak pintu horor?”

Kami mendekat.

Suara itu terdengar lagi.

Kreeeek…

Pelan-pelan Olga membuka pintu gudang.

Pintu berderit.

Di dalam gelap.

Sangat gelap.

Tiba-tiba…

Sebuah benda bundar menggelinding keluar.

Gluuuung…

Gluuuung…

Berhenti tepat di depan kaki Olga.

Sebuah roda.

Roda tua.

Besar.

Warnanya hitam kusam.

Anehnya, roda itu berdiri tegak.

Tidak jatuh.

Aku menelan ludah.

Olga berkedip.

Roda itu bergerak sedikit.

Lalu…

“Kalian lama amat.”

Aku dan Olga membeku.

“Si… siapa yang ngomong?” tanya Olga.

“Aduh, dari tadi gue ngomong juga.”

Suara itu berasal dari…

roda.

Aku dan Olga saling berpandangan.

Lalu bersamaan kami berteriak.

“RODA BISA NGOMONG!”

Benda itu mendengus.

“Ya ampun. Di sekolah ini ternyata yang namanya Roda ada dua.”

Bersambung ke Bab 2: Roda yang Mengaku Guru BK dan Sepatu Merah yang Bisa Berjalan Sendiri.

Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 08:53 WIB

Roda dan Sepatu Olga

Berita Terbaru

Uncategorized

kests

Jumat, 7 Agu 2026 - 18:22 WIB